Dakwah Digital: Peluang Karier Lulusan KPI di Era Gen Z

·

·

, , ,

Mimbar Dakwah Kini Ada di Genggaman

Dulu, dakwah identik dengan mimbar masjid, majelis taklim, dan corong pengeras suara. Hari ini, mimbar itu juga hadir di layar ponsel. Satu video kultum berdurasi satu menit bisa ditonton ribuan orang dalam semalam, dan satu unggahan yang keliru bisa menyebar sama cepatnya. Inilah wajah dakwah digital: peluangnya besar, tanggung jawabnya pun besar.

Bagi lulusan SMA, MA, SMK, maupun santri yang gemar berbicara di depan umum, menulis, membuat video, atau mengelola media sosial, perubahan ini membuka jalan karier baru. Salah satu pintu masuknya adalah kuliah di jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI). Artikel ini membahas data terbaru, landasan dakwah dalam Islam, prospek kerja KPI, dan bagaimana IAI Al Fath Sukabumi menyiapkan da’i yang siap menyapa dunia.

Data: 235 Juta Orang Indonesia Sudah Terhubung Internet

Survei Profil Internet Indonesia 2026 dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat jumlah pengguna internet mencapai 235.261.078 jiwa, dengan tingkat penetrasi 81,72 persen dari populasi. Survei ini melibatkan 8.700 responden di 38 provinsi. Angka penetrasi terus naik dari 77 persen pada 2022 menjadi 81,72 persen pada 2026. Di Pulau Jawa, termasuk Jawa Barat, penetrasinya bahkan mencapai 85,95 persen.

Survei yang sama menunjukkan alasan utama orang mengakses internet adalah komunikasi dan media sosial (19,9 persen), hiburan digital (19,7 persen), serta mencari informasi dan berita (19,6 persen). Artinya, ruang tempat umat berkomunikasi, mencari hiburan, dan mencari jawaban kini berada di dunia maya.

Siapa yang paling banyak ada di sana? Data APJII 2025 mencatat Gen Z (kelahiran 1997–2012) menjadi kelompok pengguna terbesar, yakni 25,54 persen, disusul milenial 25,17 persen. Generasi inilah yang akan menjadi sasaran sekaligus pelaku dakwah di masa depan.

Landasan Dakwah: Hikmah, Tabayyun, dan Menyampaikan Walau Sedikit

Islam memberi pedoman yang jelas tentang cara berdakwah, termasuk di media digital:

  • Dengan hikmah dan nasihat yang baik. Allah SWT memerintahkan untuk menyeru ke jalan-Nya dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan berdialog dengan cara terbaik (QS. An-Nahl [16]: 125). Di media sosial, prinsip ini berarti konten yang santun, tidak memancing kebencian, dan menghargai perbedaan.
  • Periksa sebelum menyebarkan. Orang beriman diperintahkan meneliti kebenaran berita yang dibawa orang fasik agar tidak mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan (QS. Al-Hujurat [49]: 6). Prinsip tabayyun ini adalah fondasi literasi digital seorang da’i.
  • Sampaikan walau satu ayat. Rasulullah SAW bersabda, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari, no. 3461). Dalam hadits yang sama, beliau memperingatkan keras siapa pun yang sengaja berdusta atas nama beliau. Semangat menyampaikan harus berjalan bersama kejujuran dan ketelitian.

Tantangan: Jangkauan Luas, Risiko Misinformasi

Penelitian dalam Lentera: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi (2025) menyimpulkan bahwa dakwah digital secara signifikan meningkatkan keterlibatan anak muda, memperluas jangkauan, dan membangun komunitas, terutama lewat konten yang humanis, kreatif, dan relevan dengan konteks. Namun, studi yang sama juga mencatat risiko misinformasi dan penyederhanaan berlebihan terhadap materi keagamaan.

Tantangan lain ada pada kesiapan sumber daya manusia. Studi dalam Jurnal Theologia (2025) terhadap 19 penyuluh agama di Sumatera Barat menemukan sebagian besar memiliki literasi digital rendah dan belajar secara informal, sehingga kehadiran mereka di ruang daring masih terbatas. Para peserta tetap melihat potensi besar media digital jika didukung pelatihan yang terstruktur dan strategi konten yang kreatif.

Pemerintah pun mendorong hal serupa. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad, meminta penyuluh agama memanfaatkan media sosial untuk dakwah. “Mulailah percaya diri mengaktivasi media sosial masing-masing,” ujarnya, seperti dikutip ANTARA (18 Juni 2026). Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kompetensi lewat pendidikan formal dan spesialisasi, karena “kita tidak boleh hanya menjadi generalis.”

Kesimpulannya jelas: umat membutuhkan da’i yang tidak hanya kuat ilmu agamanya, tetapi juga terampil berkomunikasi, melek media, dan mampu memverifikasi informasi.

Prospek Kerja KPI di Era Dakwah Digital

Lulusan Komunikasi Penyiaran Islam dibekali ilmu dakwah, retorika, jurnalistik, penyiaran, dan komunikasi massa. Kombinasi ini membuka beragam jalur karier, antara lain:

1. Da’i, penceramah, dan penyuluh agama

Peran klasik yang kini menuntut kemampuan baru: tampil di mimbar sekaligus mengelola kanal dakwah di media sosial.

2. Kreator konten dan produser dakwah

Menulis naskah, merekam, menyunting video, dan merancang kampanye konten islami untuk pesantren, masjid, lembaga zakat, maupun kanal pribadi.

3. Jurnalis, penyiar, dan humas

Bekerja di media massa, radio, televisi, portal berita, atau sebagai humas di lembaga pendidikan, pemerintahan, dan organisasi kemasyarakatan Islam.

4. Pengelola media sosial lembaga dan komunikasi ZIS

Lembaga filantropi Islam membutuhkan komunikator yang mampu mengemas laporan dan ajakan zakat, infak, dan sedekah secara amanah dan menarik.

Belajar Dakwah Digital di IAI Al Fath Sukabumi

Institut Agama Islam (IAI) Al Fath Sukabumi adalah bagian dari ekosistem Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath yang dipimpin KH. M. Fajar Laksana. Prodi Komunikasi Penyiaran Islam menjadi salah satu dari empat prodi unggulan, bersama Psikologi Islam, Manajemen Bisnis Syariah, dan Manajemen Pendidikan Islam. Dalam visi unggulan 2035, IAI Al Fath menargetkan keunggulan di bidang komunikasi dakwah global.

Beberapa hal yang membuat pengalaman belajar KPI di IAI Al Fath berbeda:

  • Kuliah sambil mondok. Mahasiswa belajar teori komunikasi di kelas sekaligus menguatkan adab, ilmu agama, dan tradisi dzikir di lingkungan pesantren. Bekal ini penting agar konten dakwah tidak hanya menarik, tetapi juga sahih.
  • Praktik lapangan lewat UGD (Ustadz Garis Depan). Mahasiswa mendapat ruang untuk terjun langsung membina umat, sehingga keterampilan berdakwah teruji di masyarakat, bukan hanya di layar.
  • KSMKB (Kuliah Santri Magang Kerja Berkelanjutan). Program magang berkelanjutan membantu mahasiswa membangun pengalaman kerja dan portofolio sejak masa kuliah.
  • Ekosistem ZIS melalui LAZIS. Mahasiswa dapat belajar langsung bagaimana komunikasi dakwah dan kampanye sosial berbasis zakat, infak, dan sedekah dijalankan.
  • Jadwal ramah santri dan pekerja. Perkuliahan berlangsung Senin–Sabtu sehingga dapat disesuaikan dengan aktivitas mondok maupun bekerja.

Bagi calon mahasiswa yang terkendala biaya, IAI Al Fath juga membuka Global Career Scholarship (GCS GVA), beasiswa yang dirancang untuk menyiapkan lulusan berkarier hingga level global. Syarat dan kuota resmi dapat ditanyakan langsung kepada panitia: [tautan informasi beasiswa GCS GVA].

Siap Menjadi Da’i Digital yang Berilmu dan Beradab?

Dakwah digital bukan sekadar soal jumlah pengikut. Ia menuntut ilmu yang benar, cara penyampaian yang bijak, dan kejujuran dalam menyampaikan informasi. Dengan lebih dari 235 juta pengguna internet di Indonesia, kebutuhan akan da’i yang kompeten di ruang digital akan terus tumbuh.

Jika kamu ingin menjadikan bakat berbicara, menulis, atau membuat konten sebagai jalan dakwah sekaligus karier, Prodi Komunikasi Penyiaran Islam IAI Al Fath Sukabumi bisa menjadi tempat memulainya.

Daftar sekarang melalui Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) IAI Al Fath: [tautan pendaftaran PMB].

Kenali Prodi KPI lebih dekat: [tautan halaman prodi KPI].

Informasi beasiswa GCS GVA dan konsultasi: [nomor WhatsApp Panitia PMB].

Referensi

  1. detikInet. (22 Mei 2026). Pengguna Internet Indonesia Tembus 235 Juta, Penetrasi 81,72% (data Survei Profil Internet Indonesia 2026, APJII).
  2. detikInet. (6 Agustus 2025). Survei APJII: Pengguna Internet Indonesia 2025 Tembus 229 Juta Jiwa (komposisi pengguna per generasi).
  3. ANTARA News. (18 Juni 2026). Kemenag: Penyuluh Agama Harus Manfaatkan Medsos sebagai Sarana Dakwah.
  4. Widyawati, T. I., Noor, B. M. S. A., & Satriyo, B. (2025). From Mimbar to Smartphone: Da’wah’s Evolution for Generation Z in the Digital Era. Lentera: Jurnal Ilmu Dakwah dan Komunikasi, 9(01).
  5. Khusairi, A., Fata, A. K., & Don, A. G. D. (2025). From Pulpit to Platform: Digital Literacy and the Reconfiguration of Religious Authority among State Counselors in West Sumatra. Jurnal Theologia, 36(2), 211–230.
  6. Qur’an Kemenag. QS. An-Nahl [16]: 125 dan QS. Al-Hujurat [49]: 6.
  7. Shahih al-Bukhari, no. 3461, Kitab Ahadits al-Anbiya’. sunnah.com/bukhari:3461.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *