Bagaimana sebuah seni bela diri tradisional yang mengakar kuat di lingkungan pesantren dapat bertransformasi dari sekadar warisan leluhur menjadi profesi internasional yang prestisius? Fenomena diplomasi budaya luar biasa ini dibuktikan secara nyata oleh para pendekar Perguruan Silat (PS) Sang Maung Bodas yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, Sukabumi. Keberhasilan ini mempertegas bahwa perpaduan antara kedalaman spiritual keislaman, kekayaan budaya Nusantara, dan manajemen modern mampu melahirkan daya saing global yang disegani.
Dalam perspektif akademis, lompatan prestasi ini beresonansi erat dengan visi dan semangat sivitas akademika IAI ALFATH. Sebagai institusi pendidikan tinggi Islam yang berkomitmen mencetak generasi unggul, IAI ALFATH konsisten mendorong integrasi antara nilai-nilai keislaman, pelestarian kebudayaan lokal, dan wawasan global. Ketika tradisi pesantren dikelola secara transformatif dan profesional, seni lokal tidak hanya mampu bertahan dari arus modernisasi, tetapi juga tampil menjadi magnet kebudayaan di panggung dunia (syiar cultural).
Berikut adalah 5 fakta menakjubkan mengenai kiprah bertaraf internasional para pendekar Sukabumi yang berhasil membuktikan bahwa nilai-nilai pesantren dapat menembus panggung global tanpa sedikit pun kehilangan ruh budayanya.
1. Pelatih Pesantren Dikontrak Profesional di Singapura dengan Kompensasi Puluhan Juta

pelatih terbaiknya ke Singapura untuk menjalankan kontrak pelatihan profesional. Dipimpin oleh Muhamad Apriansyah (25)—atau yang akrab disapa Coach Mio, peraih Juara 2 Indonesia Open 2022—tim ini bertugas di Grasio Sport Silat School, Kota Woodlands, Singapura. Mereka menggembleng sekitar 100 atlet muda hingga dewasa serta 60 pelatih lokal Singapura hingga 1 Januari 2026 sebagai persiapan menghadapi kejuaraan pencak silat internasional di Johor, Malaysia.
Pencapaian bersejarah ini merupakan buah dari perjuangan panjang Guru Besar KH. M. Fajar Laksana selama lebih dari 15 tahun dalam membina dan mengaitkan jejaring silat tradisi. Kerja sama ini tidak hanya memecahkan stigma lama, tetapi juga membawa perubahan paradigma baru: pencak silat berbasis pesantren kini terbukti menjadi profesi bernilai ekonomi tinggi—dengan kompensasi mencapai puluhan juta rupiah per bulan beserta fasilitas penuh—tanpa mencabut akar budayanya.
“Ini bukan hanya persoalan jurus, tapi tentang menjaga dan menyebarkan budaya bangsa. Kini dunia mulai melirik silat Sukabumi. Silat kini bisa menjadi profesi bernilai tanpa meninggalkan ruh budaya.” — KH. M. Fajar Laksana
2. Diplomasi Jurus Ekstrem: Dari Bola Api (Boles) Hingga Lisung Ngamuk

Sistem persilatan yang dibawa para pendekar Sukabumi ke mancanegara tidak hanya mencakup kategori baku Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)—seperti tunggal, ganda, beregu, dan kreatif—tetapi juga jurus-jurus khas perguruan. Jurus unik ini berakar dari riset historiografi manuskrip Kerajaan Pajajaran di Museum Prabu Siliwangi, mencakup Jurus Maung Keubet (kelincahan cakar harimau), Jurus Golok Kala Petok (kemahiran olah senjata tajam Sunda), dan Jurus Panca Kinanti (penyelarasan pertahanan, olah napas, dan konsentrasi mental).
Di samping jurus fisik, disajikan pula atraksi atraktif berbasis kanuragan seperti Maen Bola Leungeun Seuneu (Boles)—permainan melempar dan memasukkan bola kelapa membara ke dalam keranjang menggunakan teknik persilatan tangan kosong—serta Ngagotong Lisung (Lisung Ngamuk). Inovasi tradisi ini telah mengantongi rekognisi legalitas budaya yang kokoh:
- Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI): Kesenian Boles resmi ditetapkan sebagai WBTBI pada tahun 2024 dan Bedog Kala Petok pada tahun 2026.
- Rekor Dunia & Pentas Internasional: Boles memecahkan Rekor Dunia MURI (No. 12288/R.MURI/VII/2025) serta tampil mewakili Indonesia pada ajang dunia TAFISA World Sport di Lisbon, Portugal.
- Pengakuan Tingkat Provinsi: Tradisi Ngagotong Lisung resmi diakui sebagai WBTb Jawa Barat.
3. Dari Prosesi Pernikahan Lokal Hingga Jaringan Global di Turki dan Malaysia istem persilatan yang dibawa para pendekar Sukabumi ke mancanegara tidak hanya mencakup kategori baku Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI)—seperti tunggal, ganda, beregu, dan kreatif—tetapi juga jurus-jurus khas perguruan. Jurus unik ini berakar dari riset historiografi manuskrip Kerajaan Pajajaran di Museum Prabu Siliwangi, mencakup Jurus Maung Keubet (kelincahan cakar harimau), Jurus Golok Kala Petok (kemahiran olah senjata tajam Sunda), dan Jurus Panca Kinanti (penyelarasan pertahanan, olah napas, dan konsentrasi mental).
- Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI): Kesenian Boles resmi ditetapkan sebagai WBTBI pada tahun 2024 dan Bedog Kala Petok pada tahun 2026.
- Rekor Dunia & Pentas Internasional: Boles memecahkan Rekor Dunia MURI (No. 12288/R.MURI/VII/2025) serta tampil mewakili Indonesia pada ajang dunia TAFISA World Sport di Lisbon, Portugal.
- Pengakuan Tingkat Provinsi: Tradisi Ngagotong Lisung resmi diakui sebagai WBTb Jawa Barat.
sia
Model pelestarian budaya yang diterapkan PS Sang Maung Bodas memiliki karakter yang fleksibel dan merakyat. Seni silat, Boles, dan Ngagotong Lisung tidak hanya dipertunjukkan di panggung internasional, tetapi juga dihidupkan secara organik dalam tradisi sosial masyarakat, seperti syukuran, perayaan sunatan, hingga pesta pernikahan. Pada pernikahan Bintang Farania Saputri dan Briptu Ilham Farizi di Gedung Bale Kinasih Sukabumi, misalnya, pengantin pria diarak secara spektakuler menaiki lisung oleh para pesilat di hadapan para tamu dan tokoh budaya.
Di samping jurus fisik, disajikan pula atraksi atraktif berbasis kanuragan seperti Maen Bola Leungeun Seuneu (Boles)—permainan melempar dan memasukkan bola kelapa membara ke dalam keranjang menggunakan teknik persilatan tangan kosong—serta Ngagotong Lisung (Lisung Ngamuk). Inovasi tradisi ini telah mengantongi rekognisi legalitas budaya yang kokoh:
Di tingkat kelembagaan, kepemimpinan organisasi semakin solid di bawah Ketua Umum DPP Irjen Pol. Rudi Darmoko untuk periode 2024–2029. Peraih penghargaan Adhi Makayasa Akpol 1993 sekaligus Pembina IPSI Pengprov Jawa Barat ini berhasil mengonsolidasikan struktur organisasi di 10 DPD tingkat provinsi, 16 DPC kabupaten/kota, dan 19 PAC. Bahkan, perguruan ini telah membentuk dua Dewan Perwakilan Negara (DPN) di Turki dan Malaysia serta dipercaya tampil mengisi acara pembukaan Asia Africa Championship 2025 yang dihadiri puluhan negara.
4. Integrasi Nilai Spiritual, Karakter Kepemimpinan, dan Olahraga Prestasi

Keberhasilan para pendekar Sukabumi berakar dari filosofi pembinaan karakter terpadu di Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath. Ketangkasan fisik dan jurus silat diintegrasikan secara utuh dengan nilai spiritual Islam (seperti disiplin sholat lima waktu), integritas moral, serta keunggulan akademis dan hafalan Al-Qur’an melalui metode Moving Class Mastery Learning (MCML) dan teknik 3MQ (Membaca, Menulis, Merekam Al-Qur’an).
Sistem pembinaan karakter yang berkesinambungan ini dibuktikan melalui deretan prestasi nasional yang konsisten:
- Medali Emas POSPENAS: Juara 1 Nasional Kategori Tunggal Putra / Seni Persilatan pada Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Tingkat Nasional.
- Dominasi Kejuaraan Nasional: Meraih gelar Juara Umum pada berbagai turnamen bergengsi, termasuk APEC Championship (Juara Umum 1 tahun 2020 & Juara Umum 2 tahun 2019), Eljund Championship 2019, Wasit Juri Open Championship 2018, dan FORNAS VII Jawa Barat 2023.
- Eksistensi Ajang Internasional: Menorehkan capaian Juara 2 Indonesia Open Championship 2022 atas nama Muhamad Apriansyah serta meraih predikat Pesilat Terbaik di berbagai kejuaraan.
Capaian ini menjadi pelajaran berharga (lesson learned) bagi mahasiswa IAI ALFATH bahwa pembentukan karakter kepemimpinan yang berakhlak mulia dan berintegritas tinggi dapat berjalan seiring dengan pencapaian prestasi puncak di level Internasional.
5. Magnet Silat Tourism & Riset Akademis Mancanegara: Dari Italia, Prancis, hingga Jepang
Kiprah Ponpes Dzikir Al-Fath dan PS Sang Maung Bodas kini berkembang menjadi pusat destinasi Silat Tourism dan wisata budaya ramah Muslim (Muslim Friendly Tourism). Kompleks pesantren rutin menjadi tujuan berguru bagi praktisi silat luar negeri dari Belanda, Jepang, hingga Turki dalam agenda tahunan Silat Day dan Silat Syawal.
Daya tarik ini mencapai puncaknya pada perhelatan Workshop Pencak Silat Internasional (Mei 2025) di Sukabumi yang diikuti oleh praktisi dan peneliti dari Italia, Prancis, Malaysia, dan berbagai negara lainnya. Salah satu figur akademisi internasional, Massimiliano Morandini (Mr. Max)—seorang peneliti dan penulis asal Italia—melakukan studi lapangan mendalam mengenai sistem silat Al-Fath. Hasil riset tersebut dibukukan dalam karyanya yang berjudul “Martial Arts From the Mediterranean to South East Asia”, dengan menempatkan Guru Besar KH. M. Fajar Laksana sebagai rujukan utama. Hal ini membuktikan bahwa tradisi pesantren Sukabumi telah menjadi subjek riset ilmiah dan literatur kebudayaan tingkat dunia.
Penutup: Melangkah ke Masa Depan Membawa Kebudayaan Nusantara
Perjalanan panjang pencak silat dan kesenian tradisional Sukabumi dari surau pesantren hingga panggung internasional memberikan bukti nyata bahwa warisan budaya lokal memiliki daya pikat global yang tak terbatas. Melalui kepemimpinan yang visioner dan tata kelola yang profesional, Ponpes Dzikir Al-Fath dan PS Sang Maung Bodas terus berkomitmen mendorong agar kesenian Boles dapat menyusul pencak silat—yang telah ditetapkan UNESCO pada 2019—untuk diakui secara resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia oleh UNESCO.
Fenomena sukses ini menghadirkan refleksi mendalam bagi kita semua. Bagi generasi muda terdidik dan keluarga besar IAI Alfath, siapkah kita mengambil peran strategis dalam mengintegrasikan kedalaman ilmu keislaman, keteguhan nilai spiritual, dan kekayaan tradisi Nusantara agar mampu mengharumkan nama Indonesia di panggung global?


Tinggalkan Balasan