5 Temuan Mencerahkan di Museum Prabu Siliwangi Sukabumi: Dari Batu Purba Jutaan Tahun Hingga Rahasia Logam Pajajaran

·

·

,

Di tengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi, menjaga identitas budaya lokal menjadi tantangan nyata bagi bangsa Indonesia. Perkembangan zaman yang begitu cepat berpotensi mengikis pemahaman generasi muda terhadap akar sejarah dan peradaban luhur pendahulunya. Dalam merespons tantangan tersebut, keberadaan institusi pelestari budaya yang berbasis edukasi dan riset ilmiah menjadi sangat vital.

Salah satu destinasi edukasi budaya yang sangat unik di Jawa Barat adalah Museum Prabu Siliwangi (Museum Sejarah Sunda Prabu Siliwangi). Berlokasi terpadu di dalam Kompleks Pondok Pesantren Modern Dzikir Al-Fath, Jalan Merbabu, Kelurahan Karangtengah, Kecamatan Gunungpuyuh, Kota Sukabumi, museum ini menghadirkan perpaduan harmonis antara nilai keagamaan dan pelestarian sejarah.

Sajian artikel ini hadir melalui media publikasi IAI -Alfath sebagai wujud komitmen literasi tepercaya dalam mendukung promosi wawasan kebudayaan serta pendidikan tinggi Islam. Melalui platform IAI-Alfath, civitas akademika diajak untuk membedah bagaimana warisan sejarah Nusantara dipelihara, diteliti, dan disajikan secara ilmiah.

Museum Prabu Siliwangi bukan sekadar tempat penyimpanan artefak biasa. Koleksinya telah diteliti secara komprehensif oleh para pakar geologi, arkeolog senior, hingga lembaga riset negara yaitu Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Berikut adalah 5 temuan mencerahkan yang membuka mata kita tentang tingginya peradaban masa lalu di museum ini.

1. Jejak Purba Oligosen-Miosen: Batu Bergambar 130 Bentuk Kujang

Temuan dengan rentang usia paling tua yang tersimpan di Museum Prabu Siliwangi adalah sebuah batuan purba bergambar 130 bentuk rupa prototipe kujang buatan manusia (artefak). Batuan vulkanik ini telah melalui proses uji petrografi secara ilmiah oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Badan Geologi.

Hasil pengujian laboratorium Badan Geologi menunjukkan bahwa batuan purba ini berasal dari era Oligosen-Miosen dengan perkiraan umur geologi mencapai 20 hingga 30 juta tahun lalu. Keberadaan batu ini tercatat sebagai koleksi berumur paling tua yang ada di kawasan museum.

Penemuan ini memberikan refleksi kebudayaan yang sangat mendalam. Keberadaan prototipe kujang pada batuan purba membuktikan bagaimana bentang alam geologi purba dan imajinasi kebudayaan lokal di wilayah Nusantara telah saling bertaut jauh sebelum era kerajaan-kerajaan formal berdiri di tanah air.

2. Metalurgi Pajajaran: Kujang

Bukti kecanggihan teknologi pengolahan logam masa lalu terungkap melalui penelitian eksploratif oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Keseriusan pengujian ini terlihat dari intensitas riset BRIN yang dilakukan secara komprehensif sebanyak 3 gelombang sepanjang tahun 2024 (gelombang pertama pada 5–8 Mei 2024, gelombang kedua pada 30 Mei–2 Juni 2024, dan gelombang ketiga pada 22–25 November 2024).

Dalam fokus kajian paleometalik, BRIN meneliti 17 koleksi kujang peninggalan era Padjadjaran yang berasal dari abad ke-15 hingga 16 Masehi. Berdasarkan pengujian alat spektrometri XRF oleh peneliti BRIN, Rath Kautsar Firdaus (Raka), terungkap bahwa unsur besi (Fe) pada kujang-kujang tersebut rata-rata mencapai hampir 95 persen.

Para empu masa lalu juga menambahkan unsur-unsur material tertentu yang berfungsi untuk ketahanan terhadap karat. Teknik pembuatannya pun sangat bervariasi, mulai dari ditempa, dicor, hingga kombinasi campuran besi, tembaga, dan kuningan. Bahkan, pada koleksi Kujang Naga Emas (bilah besi dengan gagang kuningan atau emas), ditemukan pula lapisan aluminium yang ditambahkan secara khusus untuk memberikan tampilan visual yang lebih mengkilap (shiny finish).

Peneliti Ahli Madya BRIN, Triwurjani, memberikan pandangan mengenai keberagaman teknik pembuatan senjata khas Sunda tersebut:

“Nah, setelah saya ambil sampel saja ini luar biasa sekali. Temuan di sini kita bisa belajar mengenai hal kujang saja itu ternyata ada yang dibuat dengan cara ditempa, ada juga yang campuran antara besi dengan campuran tembaga, juga ada yang dicor.”

Data ilmiah dari BRIN ini membuktikan bahwa masyarakat Sunda pada era Kerajaan Pajajaran telah menguasai teknologi pengolahan logam (paleometalik) tingkat tinggi. Pembuatan kujang tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan memperhitungkan komposisi kimiawi dan fungsi struktur material secara presisi.

3. Koleksi Internasional Unggulan: Dari Arca Dogu 3.000 Tahun Hingga Naskah Kuno

Skala kekayaan khazanah di Museum Prabu Siliwangi terbagi ke dalam tiga area pameran utama yang menampung ribuan benda bersejarah, yaitu:

  • Ruangan Sejarah Umum: Menyimpan 1.472 benda koleksi.
  • Ruangan Sejarah Pajajaran: Menyimpan 208 benda koleksi.
  • Ruangan Sejarah Islam: Menyimpan 278 benda koleksi.

Di antara ribuan koleksi tersebut, terdapat khazanah lintas benua yang unik, seperti 5 Arca Dogu dari Jepang. Berdasarkan penelitian oleh peneliti asal Tokyo, Kishin Hiruma (2 November 2023), patung-patung berwujud figur laki-laki ini berasal dari daerah Tohoku Utara, Pulau Honshu, Jepang, dan bertarikh sekitar 3.000 tahun yang lalu.

Sementara itu, Ruangan Sejarah Islam menyimpan koleksi bernilai spiritual dan literatur tinggi. Di antaranya adalah Kitab Suci Zabur kuno berhuruf Kibti Mesir serta Injil Barnabas kuno berhuruf Ibrani dari bahan kulit yang diperoleh dari Turki. Terdapat pula koleksi unik seperti batu dari Madinah bertuliskan ayat “Kaf Ha Ya A’in Shad”, batu berukir Surat Al-Ikhlas, replika rambut Nabi Muhammad SAW, hingga mushaf Al-Qur’an besar bertinta emas yang diyakini sebagai peninggalan Syech Quro kepada Prabu Siliwangi.

Kombinasi koleksi ini menjadikan Museum Prabu Siliwangi sebagai ruang titik temu peradaban dunia, simpul sejarah perkembangan Islam, serta pusat pelestarian kebudayaan lokal Nusantara yang saling memperkaya wawasan pengetahuan.

4. Tradisi yang Tetap Hidup: Dari Maen Boles Hingga Bedog Kala Petok

Museum Prabu Siliwangi tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan benda mati (warisan budaya benda), tetapi juga menjadi wadah dinamis dalam melestarikan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang dipraktikkan secara aktif oleh lingkungan pesantren dan masyarakat.

Beberapa karya budaya tak benda dan karya seni tradisi yang berhasil dipertahankan meliputi:

  • Maen Bola Leungeun Seuneu (Boles): Seni permainan bola api yang telah ditetapkan secara resmi sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Kebudayaan.
  • Ngagotong Lisung Pajajaran: Tradisi kolaboratif yang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Provinsi Jawa Barat.
  • Hak Kekayaan Intelektual (HAKI): Pengakuan hukum dari Kemenkumham RI atas karya budaya lokal, mencakup sertifikasi HAKI untuk Golok/Bedog Kala Petok, Ngagotong Lisung, dan Maen Bola Leungeun Seuneu.

Pelestarian tradisi tak benda ini memastikan bahwa seni pertunjukan, bela diri, dan kearifan lokal tidak berhenti menjadi catatan sejarah di dalam lemari kaca, melainkan tetap berdenyut dan diwariskan kepada generasi muda.

5. Sinergi Edukasi: Pendekatan Sains, Pesantren, dan Karakter Kebangsaan

Museum Prabu Siliwangi didirikan oleh Prof. DR. KH. M. Fajar Laksana, SE., CQM., MM., Ph.D, yang merupakan keturunan ke-17 dari Prabu Siliwangi. Integrasi museum di dalam lingkungan Pesantren Modern Dzikir Al-Fath menciptakan model pendidikan terpadu, di mana para santri dan pengunjung diwajibkan mempelajari sejarah sebagai bagian dari kurikulum karakter.

Guna menjamin validitas informasi agar bernilai akademis dan tidak menyesatkan masyarakat, pihak museum secara terbuka menggandeng para peneliti lintas disiplin. Dalam Seminar Arkeologi yang digelar pada 16 November 2016, arkeolog senior dari Universitas Padjadjaran (UNPAD), Dr. Tony Jubiantoro D.E.A., menyampaikan pandangan ilmiahnya bahwa 60% dari benda-benda di Museum Prabu Siliwangi memiliki nilai sejarah tinggi (artefak) yang sangat layak diusulkan sebagai Benda Cagar Budaya.

Pendiri museum, KH. Fajar Laksana, menegaskan krusialnya pendekatan riset sains dalam pengayoman artefak sejarah:

“Kenapa harus diteliti? Karena kita bukan pakarnya saya hanya praktisi yang mencintai untuk melakukan penyelamatan benda-benda… tidak bisa bernilai pendidikan kalau tidak ada peneliti karena jangan sampai salah menginformasikan.”

Nilai-nilai kebangsaan dan keagamaan di lembaga ini diikat kuat oleh jargon dan filosofi kearifan lokal Sunda: “Ngajaga Shalat, Ngajago Silat, Ngajaga Silaturahmi”. Perpaduan antara spiritualitas Islam, olah jiwa dan raga melalui silat, serta pengujian sains yang objektif menjadikan museum berbasis pesantren ini sebagai percontohan pendidikan karakter yang holistik.

Penutup

Pengembangan Museum Prabu Siliwangi sebagai museum berbasis riset terbukti memberikan kontribusi nyata dalam menghadirkan sarana pembelajaran sejarah yang kontekstual. Komitmen ini mendapat apresiasi tinggi dari Kementerian Kebudayaan RI, yang ditandai dengan peresmian gedung baru museum serta Museum Keramik. Museum Keramik ini menyimpan 368 koleksi keramik bersejarah dari abad ke-8 hingga abad ke-20 (peninggalan Dinasti Tang, Song/Yuan, Ming, hingga Qing) yang menjadi simbol nyata ramainya jalur perdagangan Kerajaan Tiongkok di Nusantara pada masa lampau.

Bagi civitas akademika, mahasiswa, dan peneliti di lingkungan IAI ARROHMAN, keberadaan Museum Prabu Siliwangi menawarkan peluang besar sebagai laboratorium riset lapangan (field research), sumber pencerahan studi pustaka, hingga bahan kajian tugas akhir mengenai perkembangan peradaban Islam dan budaya Nusantara. Sinegi akademis antara lembaga perguruan tinggi Islam seperti IAI-Alfath dan museum berbasis pesantren ini akan memperkuat literasi kebudayaan bangsa.

Di tengah arus modernisasi yang kian cepat, sejauh mana kita telah mengenali dan menjaga rahasia peradaban hebat yang diwariskan oleh para leluhur kita sendiri?

Berkadar Besi 95% dan Anti Karat



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *